Mempertemukan Sineas dengan Penonton Difabel

Mempertemukan Sineas dengan Penonton Difabel
Poster acara literasi film. Background biru dengan gambar pita film, popcorn, dan kamera. Di bagian atas poster terdapat dua logo: 1. Logo berbentuk lingkaran hijau dengan gambar tangan mengepal dan tulisan di sekelilingnya, merupakan logo Yayasan PerDIK. 2. Logo minimalis bergaris putih dengan tulisan “Sapo Palamarta”. Judul utama di bagian atas: LITERASI FILM Pemutaran dan Diskusi Film Film yang akan diputar: "Dendang Bantilang" & "Panrita Lopi" Lokasi acara: Yayasan Perdik Perumahan Villa Permata Harapan Blok B/10 Hari & tanggal: Minggu, 10 Agustus 2025 Waktu: 15:00-18:00 WITA Bintang tamu: Foto seorang pria tersenyum memakai kacamata, topi ember, dan membawa tas selempang. Nama: M. Ikhwan Keterangan: Sutradara dan Pengajar ISBI SulSel Akun instagram: @sapopalamarta di bagian bawah poster.
Poster Literasi Film “Dendang Bantilang dan Panrita Lopi”

Minggu sore, 10 Agustus 2025, langit Makassar masih menyimpan panas yang malas pergi. Di sekretariat PerDIK, karpen sudah dibentang, kursi-kursi disisihkan, dan kipas besar tak henti menggeleng sambil berupaya sekuat tenaga menyemburkan angin ke penjuru ruangan. Jam merangkak menuju pukul tiga, waktu yang dijadwalkan untuk mulai. Tapi, seperti biasa, orang datang dengan ritme masing-masing. Ada yang masuk tergesa sambil membawa tas, ada yang nongkrong di garasi, ada yang hanya tersenyum lalu memilih tempat duduk. Pemutaran baru dimulai setelah Ashar.

Sebelum layar menyala, Ekhy sang punggawa Sapo Palamarta tampil di depan. Ia membuka acara dengan suara yang tenang, bercerita tentang niat dan harapan dari roadshow literasi film ini: mengunjungi komunitas difabel, membuka ruang obrolan, dan menanamkan kebiasaan memikirkan inklusivitas sejak sebuah film masih berupa ide di kepala.

Sore itu dua film diputar: Dendang  Bantilang serta Panrita Lopi. Saat lampu padam dan pintu ditutup, ruangan berubah hening. Hanya terdengar suara dari speaker, dan sesekali suara pelan dari seorang pembisik yang duduk di dekat penonton buta, menjelaskan adegan yang mereka tak bisa lihat.

Di atas karpet, kudapan sederhana menunggu giliran, ubi rambat ungu rebus, pisang raja rebus, dan teh hangat. Aromanya pelan-pelan mengisi ruangan, menyatu dengan cerita yang sedang bergulir di layar.

Foto M. Ikhwan sedang berbicara sambil memegang mic dan Daeng Maliq di sampingnya

Film selesai. Lampu kembali menyala. Daeng Maliq yang menjadi moderator menyapa penonton dengan senyum yang penuh semangat. Diskusi dimulai, tanpa jarak. Secara bergantian bercerita, berbagi pengalaman menonton. Ada yang menyoroti ukuran teks terjemahan, ada yang menekankan pentingnya deskripsi audio, ada pula yang mengingatkan bahwa bahasa isyarat adalah bagian tak terpisahkan dari bahasa film. Semua pendapat diterjemahkan bolak-balik oleh juru bahasa isyarat agar tak ada kata yang hilang di tengah perjalanan.

Muhammad Ikhwan, sang sineas, mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Sesekali ia mengangguk, sesekali tersenyum kecil, dan di beberapa momen, matanya terlihat berpikir jauh. Diskusi tak hanya soal teknis film, tapi juga tentang cara memandang penonton sebagai manusia yang beragam.

Suara dari masjid kompleks mulai terdengar. Namun tak ada yang terburu-buru pulang. Tawa kecil, sisa obrolan, dan janji untuk bertemu di pemutaran berikutnya memenuhi ruangan. Dari luar, mungkin ini terlihat seperti satu sore biasa—dua film, satu sutradara, segelintir penonton. Tapi bagi yang ada di dalamnya, ini adalah langkah kecil menuju mimpi panjang: mimpi tentang layar yang terbuka lebar untuk semua mata, semua telinga, dan semua cara melihat dunia.[]

Peserta kegiatan Literasi Film berfoto bersama

Daeng Maliq

Kepala suku Pustakabilitas dan Penerbit PERDIK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *