Hari ini saya pulang dengan perasaan campur aduk—letih, tapi juga hangat. Seharian saya berada di kantor pemerintah Kota Makassar, memfasilitasi pelatihan tentang Disabilitas dalam Situasi Bencana. Sekitar empat puluh peserta hadir dari delapan organisasi penyandang disabilitas, ditambah lima belas staf BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), yang tampak antusias menyimak, bertanya, dan berdiskusi.
Ini bukan pelatihan pertama yang saya dampingi, tapi ada yang berbeda. Mungkin karena untuk pertama kalinya, kami benar-benar bicara soal bagaimana pengalaman menjadi difabel saat menghadapi bencana itu masih sangat jauh dari yang dibayangkan oleh para pengambil kebijakan. Tentang bagaimana sirene tanda bahaya tak terdengar oleh teman Tuli, atau bagaimana jalur evakuasi tak bisa diakses oleh pengguna kursi roda, atau soal minimnya informasi darurat yang bisa dibaca oleh teman-teman difabel netra.
Dalam sesi hari ini, saya juga memutar film pendek hasil riset kami beberapa waktu yang lalu. Film ini—meski singkat—mampu menyentuh dan membuka ruang refleksi. Kami bicara lebih dalam setelahnya, lalu saya bagikan juga policy brief yang merangkum temuan dan rekomendasi dari riset tersebut. Rasanya senang, karena diskusi hari ini tidak berhenti di tataran keluhan, tapi bergerak ke arah solusi.

Saya makin yakin, Makassar perlu segera membentuk Unit Layanan Disabilitas (ULD) di dalam struktur BPBD. Bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar dijalankan oleh tim yang paham isu disabilitas dan siap bekerja bersama organisasi difabel di lapangan. ULD ini bisa jadi jembatan antara pemerintah dan komunitas, memperkuat respons kebencanaan yang benar-benar menjangkau semua warga, tanpa kecuali.
Makassar bukan kota yang asing dengan bencana. Banjir, rob, cuaca ekstrem—semua pernah terjadi. Tapi yang sering luput dari perhitungan adalah kelompok-kelompok yang paling rentan: difabel, lansia, anak-anak, perempuan. Dan mereka ini bukan hanya korban. Mereka punya kapasitas, pengalaman, dan pengetahuan yang sangat relevan dalam proses mitigasi hingga pemulihan. Yang mereka butuhkan hanyalah dilibatkan.
Pelatihan hari ini adalah bagian dari impact project yang saya rancang pasca mengikuti program Australia Awards Climate Fellowship. Sebuah proyek kecil yang saya harap bisa menularkan energi perubahan, sekaligus menegaskan bahwa inklusi bukan pilihan, tapi keharusan.
Saya percaya, kota yang benar-benar tangguh adalah kota yang tidak meninggalkan siapa pun dalam setiap tahap penanganan bencana. Terima kasih kepada semua pihak yang sudah terlibat hari ini. Kita sedang berjalan ke arah yang tepat. Tinggal pastikan langkah-langkah kecil ini terus kita jaga, perkuat, dan arahkan ke perubahan yang nyata.
Untuk Makassar yang lebih siap. Untuk Makassar yang lebih adil.

Nur Syarif Ramadhan
Ketua PERDIK