
Sepak bola bagi mayoritas orang adalah tontonan. Namun bagi saya, sepak bola selalu hadir sebagai pengalaman mendengarkan. Sejak kecil, saya mengenal pertandingan bukan dari layar televisi, melainkan dari suara komentator yang mengalir melalui radio. Dari sanalah saya belajar memahami arah serangan, merasakan ketegangan saat bola mendekati gawang, dan ikut bersorak ketika gol tercipta.
Bagi penonton netra seperti saya, radio adalah ruang yang membuat kami merasa ikut berada di dalam pertandingan. Melalui suara, kami tidak hanya mengetahui apa yang terjadi di lapangan, tetapi juga merasakan ritme permainan, emosi penonton, dan ketegangan setiap momen penting, meski tidak dapat melihat langsung jalannya pertandingan.
Saya masih ingat betul bagaimana rasanya mengikuti pertandingan Piala Dunia 2018 melalui siaran radio. Komentator menggambarkan jalannya pertandingan dengan sangat rinci. Ketika Prancis menghadapi Argentina, ada satu momen yang benar-benar membekas dalam ingatan saya. Saat itu, seorang pemain muda bernama Kylian Mbappé menerima bola dari wilayah pertahanan Prancis setelah situasi serangan Argentina terhenti. Komentator menjelaskan dengan suara yang semakin meninggi bagaimana ia mulai berlari cepat membawa bola melewati lini tengah. Di belakangnya, gelandang Argentina Javier Mascherano mencoba mengejar, sementara bek Nicolás Otamendi dan Marcos Rojo berusaha menutup ruang di depan kotak penalti.
Namun Mbappé terus melaju. Kecepatannya digambarkan begitu luar biasa, membuat para pemain bertahan Argentina tampak tertinggal beberapa langkah. Suasana stadion disebut semakin riuh, dan komentator terus mengikuti setiap detik pergerakannya: bola masih di kaki, jarak ke gawang semakin dekat, para pemain Argentina mulai panik mengejar dari belakang. Hingga akhirnya, tepat di depan kotak penalti, Marcos Rojo menjatuhkannya. Peluit wasit terdengar, Penalti untuk Prancis.
Dari deskripsi itu, saya bisa merasakan ketegangan yang sama seperti penonton lain. Saya tidak melihat aksi tersebut, tetapi saya memahami sepenuhnya bagaimana serangan cepat itu terjadi, siapa saja pemain yang terlibat, dan bagaimana lini pertahanan tim yang dipimpin oleh Lionel Messi kewalahan menghadapi kecepatan seorang pemain muda. Setiap detail disampaikan dengan jelas, seolah-olah pendengar diajak menyusuri lapangan langkah demi langkah.
Begitu juga saat pertandingan final antara Prancis dan Kroasia. Saya dapat mengikuti jalannya pertandingan tanpa harus menebak-nebak. Ketika gol terjadi, saya tahu dari mana serangan dimulai, bagaimana prosesnya berkembang, dan bagaimana bola akhirnya masuk ke gawang. Dari kata-kata komentator, saya membangun gambaran utuh tentang permainan. Bahkan dalam beberapa momen, saya merasa seolah-olah sedang duduk di stadion, mengikuti setiap detik pertandingan dengan penuh perhatian.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa siaran olahraga dapat benar-benar inklusif ketika disampaikan dengan cara yang tepat. Laporan pandangan mata yang detail memungkinkan penonton netra memahami pertandingan secara utuh, bukan sekadar mendengar suara tanpa konteks.
Namun pengalaman seperti itu tidak lagi saya rasakan ketika mengikuti Piala Dunia 2022.
Saya mencoba kembali mendengarkan beberapa pertandingan penting, termasuk pertandingan final antara Argentina dan Prancis. Saya mendengar sorak-sorai yang luar biasa, mendengar nama Lionel Messi disebut berulang kali, dan mendengar komentar penuh emosi saat Kylian Mbappé mencetak gol. Tetapi saya tidak mendapatkan gambaran yang jelas tentang bagaimana gol-gol itu terjadi. Saya tahu ada momen besar, tetapi saya tidak dapat mengikuti proses yang mengantarkan pada momen tersebut.
Apakah serangan dimulai dari sayap?
Apakah ada umpan terobosan yang membuka ruang?
Bagaimana posisi pemain saat bola masuk ke gawang?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tetap menggantung di kepala saya. Saya mendengar kegembiraan orang lain, tetapi tidak sepenuhnya merasakan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Perubahan ini mungkin tidak terlalu terasa bagi mayoritas orang. Namun bagi penonton netra, perbedaan antara laporan pandangan mata dan sekadar reaksi terhadap pertandingan adalah perbedaan antara ikut merasakan jalannya permainan dan hanya mendengar kegembiraan orang lain tanpa benar-benar memahaminya.
Ada yang beranggapan bahwa penonton netra masih bisa mengikuti pertandingan melalui televisi. Secara teknis, memang benar. Kami dapat mendengarkan siaran televisi seperti penonton lainnya. Namun dalam praktiknya, laporan pandangan mata di televisi sering kali tidak sedetail di radio. Televisi mengandalkan gambar sebagai sumber utama informasi, sehingga deskripsi verbal menjadi lebih singkat. Hal ini membuat penonton netra harus menebak-nebak apa yang sedang terjadi di lapangan.
Di sinilah peran radio menjadi sangat penting.
Radio memiliki karakter yang berbeda dari televisi. Karena tidak memiliki gambar, radio mengandalkan kata-kata untuk menyampaikan informasi. Komentator harus menjelaskan setiap detail pertandingan agar pendengar dapat memahami situasi di lapangan. Justru karena keterbatasan visual itulah radio menjadi medium yang paling ramah bagi penonton netra.
Selama bertahun-tahun, radio telah menjadi sarana utama bagi banyak difabel netra untuk menikmati sepak bola. Melalui radio, kami bisa mengikuti pertandingan secara mandiri tanpa harus bergantung pada orang lain untuk menjelaskan apa yang terjadi di layar.
Oleh karena itu, ketika laporan pandangan mata tidak lagi disampaikan secara detail, dampaknya sangat terasa. Bukan hanya kualitas siaran yang menurun, tetapi akses terhadap informasi juga ikut berkurang.
Padahal, akses terhadap informasi bukanlah fasilitas khusus yang bisa diberikan atau dihilangkan sewaktu-waktu. Ia adalah hak dasar yang seharusnya dijamin bagi semua orang, termasuk difabel. Dalam konteks siaran publik, aksesibilitas berarti memastikan bahwa setiap warga negara dapat menikmati layanan yang tersedia tanpa hambatan yang tidak perlu.
Sepak bola sendiri adalah olahraga yang sangat populer dan memiliki daya tarik lintas kelompok. Ia menyatukan orang dari berbagai latar belakang, usia, dan kondisi. Saat Piala Dunia berlangsung, jutaan orang di seluruh dunia berkumpul untuk mengikuti pertandingan yang sama, merasakan emosi yang sama, dan berbagi kegembiraan yang sama. Dalam momen seperti itu, tidak seharusnya ada kelompok yang tertinggal hanya karena informasi tidak disampaikan secara aksesibel.
Menjelang gelaran Piala Dunia 2026, pertanyaan tentang aksesibilitas seharusnya menjadi perhatian bersama. Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas sepak bola dunia mulai menunjukkan kepedulian terhadap isu disabilitas, terutama dalam penyediaan fasilitas yang lebih ramah bagi penonton di stadion. Namun perhatian terhadap aksesibilitas siaran, khususnya bagi penonton netra, masih perlu diperkuat, terutama di tingkat nasional.
Di sinilah peran lembaga penyiaran, media, dan otoritas sepak bola menjadi sangat penting. Mereka memiliki kewenangan sekaligus tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap orang dapat menikmati pertandingan secara setara. Sepak bola bukan hanya milik mereka yang dapat melihat layar, tetapi juga milik mereka yang mendengarkan setiap detik permainan melalui suara.
Saya percaya bahwa menghadirkan laporan pandangan mata yang detail bukanlah hal yang sulit dilakukan. Praktik ini pernah ada dan pernah berjalan dengan baik. Pengalaman saya mengikuti siaran Piala Dunia 2018 adalah bukti bahwa layanan tersebut dapat disediakan dengan kualitas yang memadai.
Yang dibutuhkan sekarang adalah dukungan dan komitmen untuk menghadirkan kembali siaran yang inklusif.
Bagi penonton netra, laporan pandangan mata adalah sarana untuk memahami pertandingan, merasakan ketegangan, dan ikut merayakan setiap gol yang tercipta. Tanpa deskripsi yang jelas, sepak bola menjadi sulit dinikmati secara utuh.[*]
Nur Syarif Ramadhan, Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan